Bermasalah

0
bermasalah

“Kiai, mengapa hidup menjengkelkan begini? Tidak ada yang benar. Semua berengsek. Satu pun tidak ada yang bisa menenangkan saya. Mohon solusi, Kiai.”

“Saya tidak bisa kasih kamu solusi. Saya cuma bisa kasih kamu dua pilihan. Pertama, itu ada ladang yang masih belum digarap. Kamu boleh menanam apa saja. Kedua, saya punya tempat warung satu. Kamu boleh berjualan apa saja. Kamu pilih, butuh modal berapa, saya kasih. Dan, selama setahun, jangan temui saya. Nanti setelah setahun baru boleh bertemu lagi.”

Setahun kemudian.

“Kiai, saya ucapkan matur nuwun. Ini modal dari Kiai, dan ini keuntungan yang ada. Tidak banyak, tapi kebutuhan saya sehari-hari terpenuhi, dan masih ada sisa lumayan. Ternyata setahun kemarin itu cuma masalah saya putus asa, bingung menghadapi hidup, akhirnya saya salahkan semua, termasuk Kiai diam-diam saya salahkan, cuma bisa khotbah. Saya salah, tapi saya masih enggan minta maaf.”

“Tidak masalah. Saya juga tidak butuh permintaan maafmu, juga tak butuh uang sisa keuntunganmu. Pakai untuk membesarkan lagi. Nanti kalau sudah banyak, baru kita bicara pembagian. Selama setahun, kamu jangan ke sini lagi. Sibuklah kerja saja. Jangan kasih kesempatan otak busukmu penuh prasangka.”

Ilustrasi kisah yang saya kutip dari Fanpage Facebook Maiyah Nusantara di atas jelas maksudnya. Pribadi yang sering uring-uringan dan terus-terusan melihat sisi negatif dari setiap persoalan atau apa saja di sekelilingnya memang orang yang bermasalah. Hidupnya penuh masalah. Orang demikian boleh jadi mengidap penyakit iri, dengki, hasud, dendam, kikir, pamer, narsisme, dan semisalnya.

Penyakit batin model demikian lebih berbahaya dibanding penyakit lahir yang mendera fisik. Jika penyakit lahir bisa dirasakan oleh penderita, penyakit batin justru dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya, sementara si penderita sendiri tidak merasa apa-apa. Berbahayanya lagi, jika penyakit lahir itu endingnya adalah kematian, penyakit batin berdampak sampai kelak di hari perhitungan.

Penyembuhan penyakit batin juga tidak bisa dikasih minum pil atau sirup sehari-dua hari lantas sembuh, namun harus dilakukan penyucian jiwa dan olah batin secara serius dan istikamah. Jika tidak, penyakit-penyakit yang tidak kasat mata seperti disebutkan di atas akan tetap diderita hingga yang bersangkutan dalam usia tua.

Kenyataan sehari-hari sudah sering membuktikannya. Karena itu, dapat kita pahami bila ada sebuah ungkapan, “Orang yang menyimpan dendam, dengki, dan iri hati, hidupnya tidak akan pernah bahagia. Jiwanya senantiasa menderita dan tersiksa. Ekspresinya juga mudah marah.”

Bagi kita, yang penting ialah terus berbuat baik. Jangan sampai terpancing. Ayo perbanyak teman dan rekanan di mana saja. Pembenci tidak memiliki apa pun selain saldo dengki dan sakit hati. Kita tingkatkan prestasi saja, nanti pembenci akan mati sendiri melihat prestasi-prestasi yang kita raih.

Kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah ketika berhasil mengikis marah dan buruk sangka. Saya perhatikan, mereka yang sukses di bidang masing-masing, di antara kuncinya, ternyata jarang marah dan selalu mengedepankan baik sangka.

Sering saya amati orang-orang yang di dunia maya suka marah-marah, sok merasa paling Islam, mudah berfatwa, dan gampang menyalahkan orang lain, begitu ketemu, ternyata orangnya lugu, kurang berilmu, kadang malah tidak berpendidikan dan penyakitan. Dia juga buta bacaan. Kalau diajak ngomong, tidak fokus dan matanya tidak berani menatap lawan bicara.

Sementara yang di dunia maya begitu santun, senang menghargai karya orang, sangat menghindari debat kusir, dan tidak mau menulis status kontroversial, begitu ketemu, rupanya dia orang hebat. Mapan secara ilmu dan ekonomi. Pemikirannya dalam, karena gemar membaca. Dia juga punya “nama” di lingkungannya.

Emosi meluap tanda pengetahuan tak dalam dan bukti hati tak bersih. Suka marah-marah tanda hidup tak bahagia dan dengan pasangan pun biasanya tidak mesra. Marah-marah mulu tanda karier pemikiran masih kelas bawah.

Saya berdoa, semoga saya, Anda, dan kita semua berhasil membersihkan toksin-toksin rohani tersebut, sehingga hidup ini menjadi lebih baik, dan bebas dari berbagai macam penyakit hati. Menjadi orang penting itu baik, tetapi menjadi orang baik adalah jauh lebih penting.

0
M Husnaini
Pembaca dan Penulis
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here