Drama Televisi

0
Drama Televisi
Foto: Warung klasik galeri

Bila ada tetangga yang beli televisi, yang drama Bapak dan Kakakku, Mbak Indri. Sebagaimana anak-anak tetangga, Mbak sangat ingin punya televisi. Sayangnya Bapak tak seperti tetanggaku pada umumnya, yang demi punya televisi rela ngutang atau nyicil, bahkan sampai jual tanah. Maka drama terus bersambung antara Bapak dengan alasan-alasannya versus Mbak dengan bantahan-bantahannya.

Ketika Bapak beralasan takut mengganggu belajar, maka Mbak membuktikan dengan nilai-nilai ulangan yang cemerlang. Ketika Bapak beralasan acara televisi membuat malas mengaji, Mbak membuktikan bisa katam Quran lebih cepat. Mbak selalu memberikan serangan-serangan cantik yang membuat lawan tak berkutik, tapi Bapak ibarat kiper yang lincah dan pantang menyerah. Gawang pertahanan Bapak baru jebol manakala serangan itu datang dari tetangga, langsung menghantam harga diri seorang ayah.

Malam itu Mbak Indri pulang menangis, bajunya basah kuyup kehujanan, sehabis numpang nonton televisi di rumah tetangga. Menurut ceritanya, Mbak Indri tak diperbolehkan masuk karena basah. Dia pun nonton televisi dari balik jendela. Namun jendela pun akhirnya ditutup untuk menghadang tampias air hujan.

“Pulang sana, numpang melulu. Suruh Bapakmu beli. Pegawai negeri kok nggak punya tipi,” hardik yang punya rumah.

Aku lihat wajah Bapak merah padam. Dipeluknya Mbak Indri untuk meredam amarahnya sendiri. “Maafkan Bapak ya, Ndhuk. Selama ini bukan Bapak tak mempercayaimu, tapi karena uangnya memang belum cukup.” Bapak mengusap air mata Mbak Indri. “Tapi jangan kuatir, seminggu lagi sawah kita panen. Kita akan beli televisi, tidak akan ada lagi yang menghinamu.”

Kami memang punya sepetak sawah sebagai penyokong gaji Bapak yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sawah itu pula yang menjadi simpanan untuk kebutuhan yang tak terduga. Sayang, dua malam sebelum panen, hujan lebat membombardir tiada henti. Sawah kami porak poranda. Kami hanya bisa panen kesedihan. Rupanya beginilah rasanya kehilangan sebelum sempat memiliki. Televisi kami yang baru berwujud angan-angan itu hanyut terseret arus.

“Sabar. Tuhan pasti akan menghadiahi kita televisi, mungkin bukan atas usaha kita, tapi atas kesabaran kita. Tuhan gampang terenyuh pada hamba yang sabar,” kata Bapak menyemangati. “Selama belum happy ending berarti drama belum selesai. Pasti ada babak baru yang memberi harapan,” sambung Bapak, mungkin mengutip Cerita Bersambung di Majalah Korps Pegawai Negeri, KORPRI.

Hujan menghadiahkan langit yang bersih. Pagi hari dihidupkan lagi oleh kupu-kupu yang menari-nari di pucuk bougenville. Bapak benar, babak baru pun tiba. Oleh kantornya, Bapak ditunjuk ikut lomba Cerdas Cermat mewakili Koperasi Pegawai Negeri Kecamatan Petarukan. Kalau Bapak lolos sampai tingkat provinsi, Bapak akan mendapatkan hadiah plakat dan uang. Plakatnya bisa untuk menghiasi ruang tamu, uangnya bisa buat beli televisi empat belas inci. Indah betul.

Bapak mempersiapkan diri seperti orang gila. Menimba sumur sambil menghapal materi. Membelah kayu bakar, mengupas kelapa, semuanya sambil menghapal. Ibu berperan sebagai penguji membacakan soal-soal, kadang sembari memasak, mencuci baju, juga menyetrika.

“Sebutkan peran koperasi dalam memberdayakan masyarakat?” teriak Ibu dari dapur sambil menggoreng tempe.

“Membagikan SHU atau Sisa Hasil Usaha pada anggotanya!” teriak Bapak dari atap rumah sambil membetulkan genting yang bocor.

Pada akhirnya ini bukan hanya pertaruhan Bapak, tapi kami sekeluarga. Mbak Indri mengajakku menghapus waktu main dan mengambil alih beberapa pekerjaan agar Bapak bisa lebih fokus belajar. Ibu mengimbangi usaha Bapak dengan puasa senin kamis. Hasilnya, Babak demi babak bisa Bapak menangkan, dari tingkat Kabupaten, Eks Karesidenan, hingga akhirnya masuk final ke tingkat Provinsi.

Inikah hadiah Tuhan yang pernah Bapak katakan itu? Inikah balasan bagi hamba yang sabar. Tunggu dulu, Tuhan memang sebagaimana prasangka hamba-Nya, tapi kadang menyiapkan surprise sebagai bonusnya. Surprise itu adalah Acara final nanti akan disiarkan langsung TVRI Stasiun Yogyakarta!!! Geger dan hebohlah seisi kampung. Bapakku, seorang ayah yang belum sanggup beli televisi akan masuk televisi!!! Tak hanya se kampung, mungkin sekecamatan, atau bahkan sekabupaten, Bapak adalah orang yang pertama. Kalau ada Guiness Book of Village Records, Bapak pasti masuk.

Pak Kades mengundang warga ikut nobar di balai desa. Pemuda karang taruna mendekorasi dengan kertas dan balon warna-warni disertai tulisan-tulisan penyemangat. Ibu-ibu PKK menjamu dengan aneka jenis makanan karena para pedagang memilih nonton daripada berjualan. Imam masjid pun hadir memimpin doa bersama.

Sayang, televisi tujuh belas inci milik balai desa menjadi terlalu kecil untuk jumlah pemirsa yang membludak. Mereka meringsek ke depan ingin menyaksikan keajaiban terjadi. Keajaiban itu adalah Bapak, seorang yang mereka kenal sehari-hari kini muncul di layar kaca.

Untunglah, oleh Pak Kades kami ditempatkan di kursi terdepan sejajar dengan para tokoh masyarakat. Di sana kami terngiang pesan Bapak sebelum berangkat ke Yogya. “Nanti kalau di tivi kalian lihat bapak nepuk dada dua kali, itu artinya bapak ada di sini karena kalian, untuk kalian.” Kulihat mata Mbak Indri meleleh ketika akhirnya Bapak muncul memperkenalkan regunya, diselingi menepuk dada dua kali.

“Mbak takut Bapak kalah, ya?” Tanyaku berbisik.

“Mbak menyesal pernah nggak bangga sama Bapak. Sekarang mbak bangga meski bapak belum bisa beli tipi.”

Dan kebanggan itu tak hanya milik kami bertiga, tapi semua yang hadir di sini. Setiap kali regu Bapak mendapat nilai, mereka berteriak ALLAHU AKBAR!!! Begitu regu lain yang dapat nilai, mereka teriak HUUUUU. Mereka yang tak bisa nonton di dalam pun akhirnya bisa tahu nilai yang diperoleh regu Bapak dengan menghitung berapa kali Allahu Akbar bergema.

Tuhan Maha Bijak. Memberikan yang terlalu manis kadang malah menjadikan penyakit. Regu Bapak hanya meraih juara dua, dikalahkan regu dari Semarang. Peringkat ini tak cukup untuk bersombong-sombong, tapi cukup lah untuk membuat bangga semua warga, dan menaikkan harga diri Bapak. Kami pun sudah tak masalah jika Bapak tak bisa beli televisi karena hanya juara dua.

Esoknya kami menunggu Bapak di batas desa mengenakan baju terbaik yang hanya kami pakai saat lebaran. Ibu menyewa dua becak agar bisa kami naiki berempat. Menurut perkiraan Bapak akan tiba jam tiga sore. Kami sudah menunggu dari satu jam sebelumnya, tapi hingga jam lima Bapak belum juga nampak.

Ada apakah? Kami gelisah. Tuhan, kami tak mengharap kejutan apa-apa lagi. Sudah cukup hadiah dari-Mu ini, sekarang kami hanya ingin Bapak pulang dengan selamat.

Azan maghrib mulai bersautan. Dalam keremangan bayangan Bapak akhirnya nampak di kejauhan. Ia berjalan kaki sambil menggendong kardus besar. Tak sabar, kami lari menyongsongnya.

“Bapaaaaakkkkkkkkk.” Mbak Indri yang lari paling depan. Ditubruknya pelukan Bapak dengan tangis yang tersengal-sengal.

“Kenapa nangis, Nduk? Cep,cep. Jangan sedih. Meski cuma juara dua, Bapak tetap dapat hadiah uang. Tak sebanyak juara satu, tapi teman-teman regu Bapak ikut menyumbang sebagian hadiahnya, jadinya Bapak bisa beli televisi. Makanya Bapak agak telat. Nduk senang kan punya televisi?”

Bapak membuka kardus yang dibawanya. Tampaklah televisi empat belas inci merk Telesonic yang anggun. “Ini keluaran terbaru. Ada lapisan kaca warna-warni yang bisa diganti-ganti. Di sini belum ada yang punya.”

Mbak hanya tersenyum dan melirik sedikit saja ke arah televisi itu. Dengan malu-malu ia memandang Bapak lalu menepuk dadanya tiga kali seperti yang Bapak lakukan di televisi.

Kalau ada ungkapan ‘Seorang ayah adalah cinta pertama bagi putrinya’, aku menyaksikannya pada Mbak Indri saat itu. Kebanggaanya pada Bapak jauh melampaui kebanggaaan punya televisi keluaran terbaru. Dan bagiku sebagai anak lelaki, ini menjadi catatan, belum hebat seorang ayah bila belum bisa membuat jatuh cinta anak-anaknya.

***

0
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here