Memahami Kehidupan Bernegara

0
29
views
Memahami Kehidupan Bernegara

Tidak ada satupun pemimpin yang dapat memuaskan seluruh rakyatnya, walau dalam dongeng sekalipun. Jelasnya, tak akan pernah ada pemimpin yang sempurna.

Siapapun kepala negara di negeri kita, sudah pasti harus melanjutkan apa yang sudah dibangun dan disepakati oleh kepala negara sebelumnya, tentu juga harus memperbaiki kegagalannya. Sisanya adalah membawa bangsa mencapai kemajuan sesuai dengan misinya.

Bagi Indonesia, tidak ada jalan mundur… Maju dan hanya maju. Karena mundur artinya kita hancur, diam pasti kita digilas. Maka satu-satunya jalan adalah “bertaruh” untuk mencapai kemajuan secepatnya. Boleh jadi hasilnya bukan untuk kita, tetapi untuk generasi yang akan datang.

Sekarang kita dipaksa (terpaksa) untuk bertaruh dan bertarung karena bangsa Indonesia telah jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Tentunya membangun cita-cita sebuah bangsa harus merujuk kepada negara-negara yang dianggap telah maju mapan.

Mustahil pertaruhan (penggadaian) itu tanpa “bunga”, dan mustahil sebuah negara berani memberi pinjaman jika tidak menguntungkan, dan begitu pula sebaliknya. Kekayaan negeri kita adalah modal utama (jaminan) untuk membangun peradaban, sayang hingga sekarang kita belum hidup makmur dan sejahtera.

Mau atau tidak mau, pertaruhan itu setara dengan “menggadaikan” sebagian kekayaan negeri yang kita miliki. Selanjutnya adalah kita harus “bertarung”. Berhasil atau gagal… Itu semua tergantung kepada masyarakatnya (kita). Mau berobah dan maju atau tidak berobah dan kalah… Ingat, pertaruhannya adalah sebagian harta kekayaan negeri kita.

Cara kerja sebuah negara tidak beda jauh dengan cara hidup kita. Pinjam uang ke bank atau pergi ke pegadaian untuk modal usaha. Setelah itu harus bekerja keras agar benda jaminan tidak disita oleh pemberi modal. Jika berhasil, uang pinjaman lunas serta benda jaminan kembali. Selanjutnya kita dapat mengelola usaha secara mandiri dan menikmati hasilnya.

Jadi, saat ini beban utang negara itu telah berada di pundak “kita” semua. Kita harus mampu menjadi bangsa “petarung” yg kreatif dan produktif… ingat… TIDAK ADA JALAN MUNDUR…!

Jika berhasil maka anak cucu kita di masa depan akan hidup sambil menari dan bernyanyi di Tanah Airnya sendiri yang kita perjuangkan hari ini… Tetapi jika gagal, mereka akan kehilangan sebagian tanah airnya… bahkan bisa jadi kehilangan kemerdekaannya (*menjadi kacung).

Maka dari itu, sesegera mungkin pemerintah harus mengawal masyarakat untuk secepatnya keluar dari permasalahan “keagamaan” yg memiliki perwatak kontra-produktif. Sebab utang negara tidak dapat dibayar oleh keimanan dan ketakwaan. Tuhan tidak pernah membayar utang suatu bangsa. Tidak pernah ada negara maju yg dibangun oleh fanatisme keagamaan.

Kemajuan sebuah negara ditentukan oleh semangat kebangsaan (nasionalisme) dan kerja keras yg nyata. Agama didudukan hanya sebagai pengawal moral manusia dan bukan sebagai akar kebangsaan pun kenegaraan.

Mau ikut bergabung dan bertarung untuk Tanah Air dan anak cucu kita…???

KITA DILAHIRKAN UNTUK MEMBANGUN NEGERI INI

KEBANGKITAN BATARA GURU

Tabe Pun
🙏🙏🙏
Rahayu Sagung Dumadi

0
SUMBERLQ Hendrawan
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here