Pak Muji dan Warsito

0
Pak Muji dan Warsito

Ini adalah cerita ketika aku masih SMP. Sebutlah namanya Pak Muji. Dia salah satu guru les bahasa Inggris di daerahku. Aku adalah salah satu muridnya yang akan menceritakan padamu tentang salah seorang muridnya yang lain, namanya Warsito.

Pak Muji memiliki beberapa kelas, dari siang sampai malam. Dari semuanya Warsito yang paling menarik perhatiannya. Memang dia paling cerdas, namun bukan itu alasannya. Tapi karena dia yang paling sering telat bayar iuran, dan ini… dia selalu bayar dengan uang receh dengan pecahan terkecil.

Pak Muji bukan orang kikir (tentu saja, orang kikir tak mungkin jadi guru) ia hanya terdorong oleh rasa penasaran. Maka di satu hari Minggu, Pak Muji sengaja menyelidik kehidupan Warsito. Ia datangi kampungnya, melihat rumahnya dari jauh, tanya tetangga kanan kiri Warsito.

Akhirnya diketahuilah ternyata Warsito, dalam usia semuda itu sudah jadi tulang punggung keluarga. Pagi dan sore jadi loper koran, mengayuh sepeda mendatangi rumah-rumah dalam radius sekecamatan. Selain itu, setiap jam tiga pagi jadi kuli di pasar ikan sampai menjelang waktu sekolah tiba. Terjawab sudah dari mana asal muasal uang receh pecahan terkecil tersebut.

***

Setelah kejadian itu semua tetap berjalan seperti biasa. Warsito tetap kursus dan membayar dengan recehan. Kalau pun ada perubahan adalah kemampuan Warsito berbahasa Inggris yang makin melampaui kami-kami.

Sampai kelulusan tiba, Pak Muji memanggil Warsito. Di situ beliau mengembalikan semua uang iuran yang pernah Warsito bayarkan.

“Aku berdosa bila menerima uangmu. Kamu tulang punggung keluarga, cerdas dan usahamu sangat gigih. Ilmuku gratis untuk anak-anak sepertimu. Pakailah uangmu untuk keperluan lain.”

Warsito menangis sambil menciumi tangan Pak Muji. Ia berjanji akan menggunakan ilmunya untuk kebaikan..

***

Kira-kira belasan tahun kemudian, Pak Muji menua, kursus bahasa Inggris mulai menjamur, ada yang pakai komputer dan internet dan AC. Kursus Pak Muji yang kuno pun tak kuat tergilas persaingan.

Di sinilah kebaikan yang dulu pak Muji pernah berikan mulai bekerja untuknya. Pak Muji mungkin sudah lupa, tapi kebaikan tak akan pernah melupakan pelakunya.

Warsito yang sudah belasan tahun menghilang tahu-tahu muncul. Badannya sudah berisi dan tidak bau ikan. Rupanya ia sangat sukses di rantau. Bahasa Inggrisnya membawa ia bolak balik keluar negeri. Paspornya sudah berkali-kali habis dan berganti.

“Saya tidak bisa mengembalikan kebaikan Bapak Guru seperti dulu Bapak Guru mengembalikan uang iuran saya. Saya hanya ingin menepati janji saya bahwa saya akan menggunakan ilmu yang Bapak Guru berikan untuk sebanyak-banyaknya kebaikan.”

Tak lama setelah pertemuan itu, hebohlah satu kecamatan, Pak Muji punya tempat kursus baru yang dilengkapi beberapa komputer, internet, dan ruangan ber AC. Satu lagi, tempat kursus Pak Muji menyediakan hari khusus bagi yang kurang mampu untuk belajar Gratis.

***

Aku tak tahu lagi keberadaan Pak Muji dan Warsito sekarang. Tapi kisah ini selalu melekat berada dalam ingatanku. Sebuah tempat kursus yang dulu kecil dan bersahaja. Di sini, melalui Pak Muji dan Warsito aku pernah belajar bahwa menolong orang lain hakikatnya menolong diri kita sendiri. Kita tak pernah tahu waktunya, tapi Dia tak pernah meleset sedikit pun perhitungannya

0
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here