Surat Dari Bapak

0
Surat Dari Bapak

Kalau rumah tangga itu sering diibaratkan bahtera, maka rumah tangga kedua orang tuaku hanya cocok diibaratkan sampan di tengah samudera yang luas, mudah sekali diombang-ambingkan gelombang. Sampan kecil yang hanya memuat aku dan Mbak Indri yang masih balita, dan Ibu sebagai nahkoda sekaligus pendayung, penebar jala, hingga memindahkan ikan-ikan tangkapan ke mulut kami.

Kemana Bapak saat itu? Bapak tak bisa ikut berada di sampan kami. Ia berenang tanpa alat bantu menuju sebuah pulau nun jauh di seberang sana. Pulau yang menyimpan harapan untuk kami sekeluarga.

Tepatnya begini, ketika usia rumah tangga masih belia, Ibulah yang harus berperan di rumah. Ibu yang bekerja mencari nafkah menjadi guru SD. Penghasilan tak banyak, itupun, selain untuk menghidupi kami, harus disisihkan untuk membantu kuliah Bapak.

Bapak, seperti halnya Ibu, seharusnya bisa langsung mengajar begitu lulus dari SPG. Tapi berdasarkan kesepakatan dan cita-cita bersama, Bapak melanjutkan kuliah di IKIP, agar begitu lulus langsung mendapatkan golongan 3A dalam jenjang kepegawaian. Dengan golongan ini, pantaslah punya cita-cita jadi kepala sekolah, bahkan kepala pengawas nantinya. Maka begitulah pembagian tugas yang disepakati. Ibu merawat hari ini, Bapak menyiapkan hari esok.

Kadang hidup tak seindah cita-cita, tapi cita-cita jugalah yang membuat kita hidup. Tak mengapa hidup jadi terseok-seok karenanya. Bagaimana tidak, kami hanya punya Ibu seorang diri di rumah. Meski demikian Bapak selalu hadir walau tak secara fisik.

Setiap sore, tepatnya satu jam sebelum azan maghrib, akan terdengar sayup-sayup bunyi kenongan dari seberang kali. Kenongan adalah alat musik menyerupai gong tapi ukurannya sekecil panci. Kenongan itu dipukul dengan tempo yang teratur, “thung…thung…thung.” Begitu keramat kedengarannya.

Kata Ibu, bunyi kenongan adalah aba-aba bahwa alam akan segera memasuki waktu sandikala, waktu dimana matahari sedang sedih-sedihnya karena harus menenggelamkan diri. Angin berbelasungkawa dan menebarkan penyakit yang berbahaya bagi anak-anak.

Maka tak sampai menunggu kenongan itu berbunyi sepuluh kali, Ibu langsung mengumpulkan kami di kamar. Bagi anak-anak lain, itulah saat yang menakutkan, tapi bagi kami itu saat yang paling ditunggu, karena justru di saat itulah yang digunakan Ibu untuk membacakan surat dari Bapak untuk kami.

“Le, kemarin Bapak lihat sepatu seperti ini,” suara Ibu membacakan sambil memperlihatkan potongan gambar sepatu boot warna biru dari bahan plastik. “Gagah sekali untukmu yang mau jadi tentara. Nanti Bapak belikan kalau Bapak sudah lulus. Nah, kau tahu bagaimana agar Bapak cepat lulus? Bacalah surat Qulhu setiap malam sebelum tidur untuk Bapak. Bapak jadi lebih pintar karenanya, guru-guru Bapak pun jadi berbaik hati memberikan nilai yang tinggi. Itulah keajaiban surat Qulhu, Le.”

Mulutku menganga, mataku berkilat-kilat melihat gambar itu. Berikutnya Ibu membuka lipatan kecil dari amplop lagi, dan seketika Mbak Indri yang terbelalak melihat gambar mainan seperangkat alat masak.

“Nah, ini untukmu, Indri. Karena macamnya lebih banyak, Qulhu-nya juga harus lebih banyak. Qulhu yang pertama, Allah akan menurunkan malaikatnya. Qulhu kedua, malaikat akan menjaga mainan itu agar tak ada yang membeli. Qulhu yang ketiga malaikat akan membisikkan di telinga pemilik toko agar memberi harga murah pada Bapak.”

Kawan, sampai sini kau tahu begitu hebatnya keajaiban sebuah cita-cita. Cita-cita punya sepatu boot bisa langsung menggerakkan tanganku membalas surat Bapak. Aku berjanji seselesainya menulis surat balasan, aku akan menghapal surat Qulhu. Kau ingin tahu bagaimana macamnya tulisan tanganku kala itu? Mirip sekerumunan cacing kepanasan, ruwet, kusut, tak bisa kau baca. Hanya dengan perasaan kau akan bisa mengeja huruf-huruf itu, yang bila dirangkai bunyinya; R-I-N-D-U.

Pada surat selanjutnya Bapak mulai rutin menyertakan Majalah SI KUNCUNG, majalah cerita anak dan pendidikan dasar. Kata Bapak dalam suratnya, majalah itu dipinjamnya dari perpustakaan di perguruan tinggi. Tak sembarang mahasiswa boleh meminjamnya, hanya yang benar-benar berprestasi dan bisa baca Surat Qulhu tiga puluh tiga kali. Maka bertambahlah seketika kekagumanku pada Bapak dan surat Qulhu.

Saat itu juga Si Kuncung menjadi sumber kegembiraan kami. Hebat nian Si Kuncung, dari kamar ini bisa mengajak menjelajahi cerita-cerita di berbagai belahan dunia. Pada surat balasan, aku minta Bapak baca surat Qulhu lima puluh kali agar boleh pinjam Si Kuncung lebih banyak.

Begitulah keadaan selama bertahun-tahun. Walau Bapak sangat jauh menuntut pendidikan di perguruan tinggi, Bapak tetap hadir di rumah ini, setiap satu jam sebelem maghrib, setelah tiga ketukan bunyi kenongan sandikala. Bapak hadir melalui surat dan majalah Si Kuncung.

***

Bapak akhirnya lulus kuliah, namun tak bisa langsung kembali ke pelukan kami. Bapak ditugaskan mengajar di Sleman, Yogyakarta. Kami tumbuh, Mbak Indri makin besar, makin mahir baca tulis, cerdas melampaui usianya. Suatu malam ketika Ibu sudah tidur, ia merapat ke kasurku.

“Kau tahu, setelah kuperhatikan, tulisan tangan di surat Bapak bentuknya persis dengan tulisan tangan Ibu,” bisik Mba Indri seperti detektif sedang membongkar rahasia. “Bapak kalau nulis A kapital, mirip huruf a kecil tapi diperbesar. Nah di surat itu, huruf A kapital, ya kapital seperti semua tulisan Ibu.”

Aku sedang berpikir mau berkata apa atas temuan Mbak Indri, belum-belum dia sudah menimpali lagi.

“Dan majalah Si Kuncung itu, ternyata di sekolah Ibu ada. Mbak lihat sendiri waktu diajak ke sana.” Makin dekat bibir Mbak ke telingaku, makin sakit rasanya.

Kupejamkan mataku kuat-kuat. Badan kuputar balik memunggungi Mbak.

“Lalu, kenongan sandikala itu, Mbak nggak sengaja lihat tukang jual wedang jahe keliling bawa kenongan, bunyinya sama. Selalin wedang, ia jual gemblong goreng dan sate kroco. Kayaknya enak banget. Itulah kenapa kita disuruh masuk kamar karena Ibu tak punya uang.”

Kini telingaku yang kusumpel rapat-rapat dengan jari. Wajah kubenamkan dibalik sarung. Aku tak mau mendengarkan temuan Mbak lebih panjang. Itulah pertama kalinya aku menyesal kenapa Tuhan memberi Mbak kepintaran. Kalau boleh memilih, kami ingin tetap bodoh dan tak tahu apa-apa.

“Tapi itu baru dugaan Mbak. Bisa jadi semua tulisan tangan orang dewasa memang mirip satu sama lain. Bisa jadi Majalah Si Kuncung memang ada di setiap sekolahan, ya sekolahnya Ibu, ya kampusnya Bapak. Dan kenongan itu mungkin ada yang jual di pasar.”

Aku baru berani membuka sarung yang menutupi wajahku dan menghadap lagi ke arah Mbak.

“Jadi, itu baru dugaan Mbak saja, kan?”

Mbak mengangguk sambil mengusap mataku yang berkaca-kaca. Kami sepakat untuk melupakan temuan Mbak. Mbak pun berjanji tidak akan mencari tahu lebih jauh, agar Bapak tetap hadir seperti biasa walau berada jauh di Sleman, melalui surat-surat, dan Si Kuncung.

Pun seandainya dugaan Mbak benar, semoga Tuhan mengampuni kebohongan Ibu. Kebohongan yang membuat kami hafal surat Qulhu bahkan sebelum bisa baca tulis, kebohongan yang membuat kami tak kehilangan sosok Bapak, kebohongan yang membuat kami merasa cukup tak kurang jajan dan tak kurang kegembiraan.

Apalagi melihat sosok Ibu, Tuhan pasti kasihan. Wanita kurus kering, ringkih, mendayung sampan seorang diri menyelamatkan anak-anaknya dari hantaman gelombang. Ringkih, namun selalu lebih kuat dari masalah apapun.

Ini bukti Tuhan takkan mungkin mengingkari sifat Maha Adilnya, maka di setiap cobaan yang menimpa anak manusia, Dia hadirkan Ibu sebagai penguatnya.

0
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here