Tawa Kang Darsan

0
Tawa Kang Darsan
Foto: uncleAd 2

Gembira adalah setengahnya sehat, pura-pura gembira adalah setengahnya sakit. Kau tak akan menemukan ungkapan itu di manapun, di bokong truk maupun dalam buku 1000 Kata Mutiara Terbaik, tidak ada. Hikmah itu kutemukan sendiri setelah lama aku mengenal Kang Darsan. Dia tetangga di belakang rumahku. Sekalipun kau tak pernah bertemu dengannya, kau akan mudah mengenalinya bila kuberi tahu dua ciri yang melekat padanya.

Ciri yang pertama adalah fisiknya yang menonjol. Menonjol ini bisa diartikan fisiknya memang berbeda dari kebanyakan postur tubuh orang-orang di daerahku, bisa juga karena secara kasat mata banyak yang menonjol di bagian tubuhnya, terutama di bagian dada, perut dan lengan. Kekar, gumpalan-gumpalan otot dimana-mana. Rambutnya panjang sebahu dan sering angin membuatnya kocar-kacir, makanya ia selalu memakai ikat kepala dari sobekan karung terigu Cakra Biru, mirip Advent Bangun dalam film Si Buta Lawan Jaka Sembung produksi Rapi Film keluaran tahun 1983 arahan sutradara Dasri Yacob.

Bentuk badan seperti itu terbentuk secara alamiah. Kang Darsan tak pernah kursus binaraga, ia hanya menjalankan tirakat binaragad. Ragad, dalam bahasa Jawa artinya uang atau biaya. Binaragad bisa diartikan mencari uang, mencari mata pencaharian. Tentu, itu hanya istilahku saja, tak perlu kau pusingkan.

Nah, soal mata pencaharian itu, kerap gonta-ganti. Paling sering kulihat Kang Darsan jadi kuli panggul di Pasar Petarukan. Bolak-balik mengangkat berkarung-karung beras dari atas truk Sumber Pangan ke kios Beras Sama Dipikul milik Pak Jamhari. Lain waktu, ia jadi tukang prekul, diupah untuk menebang pohon dan membelah kayunya jadi ukuran-ukuran kecil. Tak jarang pula, kalau ada kerbau terperosok masuk kubangan lumpur, sang majikan pasti menggunakan tenaga Kang Darsan, tentu saja ini juga ada upahnya.

Jangan heran, dalam sehari Kang Darsan bisa berkali-kali ganti profesi. Kalau saja dia punya kartu nama, dan semua profesinya itu harus ditulis semua, bisa dipastikan Kang Darsan lah yang punya kartu nama terpanjang sekabupaten, mungkin melebihi panjangnya ikat pinggang.

Namun begitu, ada satu pekerjaan yang tak pernah ditinggalkan dan tergantikan. Pekerjaan tanpa upah namun disiplin ia lakukan dengan penuh pengabdian, yakni menimba sumur untuk mengisi kolah di mushola kami, orang-orang yang tinggal di pinggir kali.

Pagi-pagi sekali sebelum Lik Ma’il mengumandang azan subuh, pasti terdengar suara klithik-klithik timba yang dikerek, lalu byuuurrr suara air mengisi kolah yang kurang dari setengah. Ia baru berhenti begitu masuk iqomah, bertepatan dengan air kulah sudah penuh, dan jamaah terakhir beres dengan wudhunya. Hal itu berulang di sore hari menjelang maghrib.

Seingatku, dari sejak aku masih kecil, sejak pertama kali diajak bapak sholat di mushola itu, sudah Kang Darsan ini yang menjadi Kepala Bidang Pengairan Mushola Baitul Makmur (mungkin demikian kalau ada nama jabatan resminya) walau tak pernah ada yang merasa mengangkatnya, apalagi mengupahnya.

Saat musim kemarau panjang tiba, berlipat-lipatlah dedikasi Kang Darsan untuk tetap bisa memasok air, setidaknya untuk kebutuhan air wudhu lima sholat fardhu. Bayangkan, ia harus bolak-balik berjalan kaki memikul dua gentong air, dari belik, sumber air di dukuh sebelah yang demikian jauhnya. Itupun ia lakukan tengah malam agar tak mengantri dengan orang-orang yang mengambil air dari belik itu juga. Untuk orang yang tak pernah mengucapkan sumpah jabatan, kurasa dedikasinya tak kalah dengan pegawai negeri yang menerima gaji bulanan, beras jatah, dan tunjangan hari raya.

Nah. Baiklah. Sekarang saatnya kukenalkan cirinya yang kedua, dan ini yang cukup ganjil kukira, berkaitan dengan kebiasaannya tertawa.

Kalau orang bijak pandai berkata, “Pikir dulu baru bicara,” nah, Kang Darsan lain, ia tertawa dulu baru bicara. Tawanya itu mirip tawanya pelawak Iskak jadi Petruk dalam acara Ria Jenaka, melengking dengan nada oktaf tinggi. Coba kau simak potongan-potongan sebagian omongannya yang masih kuingat berikut ini.

“Hiakakakakkk, tadi Pak Carik lagi medang di warungnya Lisa dilabrak istrinya! Hiaakakakak, emang gula di rumah kurang manis apa? Hiaaakakakak, gitu katanya.”

“Hiakakakakkkk, semalam mau nonton Aneka Ria Safari, bubyar kabeh, Hiakakakakkk gara-gara ada Laporan Khusus kunjungan Presiden Suharto meresmikan bendungan. Hiaaakakakkk, asem.”

“Hiakakakakakkk, wis seminggu nggak manggul gara-gara jembatan kali Comal ambruk, truk-truk nggak bisa lewat. Hiakakakakak, ngenes.”

Begitulah. Acak sekali tawanya. Suka-suka, tak sesuai dengan juklak, petunjuk dan tata laksana tertawa pada tempatnya. Kok bisa-bisanya hiakakakakkkk itu bersambungan dengan keadaan ngenes seperti ambruknya jembatan Kali Comal yang mengakibatkan hilang mata pencahariaannya.

Aku menduga Kang Darsan pernah nonton film Warkop dimana selalu ada peringatan Tertawalah Sebelum Tertawa itu Dilarang saat cerita dimulai. Atau barangkali dia pernah membaca di dinding Koran Masuk Desa, bagian rubrik kesehatan yang mengungkapan faedah tertawa bagi kesehatan. Buktinya ia selalu tertawa, dan kuperhatikan jarang sekali sakit. Sakit aneh-aneh seperti paru-paru, jantung, liver, mag, tak pernah. Satu-satunya penyakit yang lumayan berkelas dan berkenan menghampirinya ya cuma sakit gigi, sampai mulutnya melembung seperti orang meniup balon. Itupun dia masih tertawa walau dengan durasi pendek-pendek, dan diameter buka mulut yang mengecil. Tak menganga, mungkin mengingi istilahnya, karena kecil.

Sore itu dia datang menjumpai bapak di rumah, minta obat. Bapak, walau bukan dokter atau mantri, selalu sedia obat-obatan standar di kotak P3K.

“Nih, diminum cukup dua kali sehari, dosisnya sudah yang paling tinggi,” kata Bapak sambil memberikan obat sakit gigi dan gusi cap Ani-Ani dan Ibu Tani.

Kang Darsan manggut-manggut, merem-melek sambil memegangi pipinya. Tawanya tak lagi hiakakakak seperti biasanya.

“Heugheugheug, matur suwun. Heugheugheug, sakitnya ampun-ampunan. Heugheugheug, wadawwwww .”

“Mbok kalau sakit, libur dulu ketawanya.”

“Heugheugheug, nggak bisa. Sudah kebiasaan dari kecil. Heugheugheug.”

“Kenapa begitu? Siapa yang membiasakan?”

Kang Darsan tersenyum setengah tertawa sambil menerawang jauh ke masa kecilnya. Aku beringsut dekat Bapak ikut nguping. Baiklah, agaknya lebih baik aku saja yang menceritakannya dengan bahasaku, daripada mendengar langsung ucapannya. Ruwet. Sedikit-sedikit heugheug.

Waktu kecil ia tinggal bertiga dengan ibu dan neneknya. Bapaknya minggat ke Sumatera tak pulang-pulang, tak berkabar, entah bagaimana rimbanya. Waktu Kang Darsan berumur enam tahun, ibunya meninggal karena muntaber. Darsan kecil menangis berhari-hari bahkan sampai melewati masa berkabung tujuh harian. Dimintakan jimat sawan tangis dari orang pintar, tidak mempan. Diminumkan air yang sudah didoakan Mbah Nur, kyai paling punya karomah sekecamatan, tidak diam juga. Neneknya, dari jatuh kasihan sampai jatuh kesal, akhirnya kembali jatuh iba lagi.

Dibawalah Darsan kecil ke makam ibunya. Diusap-usapnya kepala Darsan kecil sambil diberitahu bahwa arwah ibu Darsan seharusnya sudah bisa tenang di alam kubur, tapi karena anaknya yang masih menangis terus, ibunya tertahan, pintu alam kuburnya belum bisa dimasuki. Akhirnya tersiksa. Mau kembali ke dunia juga tak bisa.

“Nah, mulai sekarang, jangan menangis, ya. Pokoknya kalau kamu sedih, tertawa saja. Makin sedih makin keras. Lama-lama sedihnya pasti hilang.”

Aku dan bapak tadinya mau terbawa sedih, tapi keburu buyar oleh tawa Kang Darsan lagi.

“Heugheugheug, sejak itu jadi kebiasaan.” Sebentar dia lupa sakit giginya. “Hiakakakakakkkkkk, wadaawwwww.”

Tapi ada yang aneh belakangan ini. Kang Darsan kelihatan begitu kelabu. Padahal acara Srimulat tadi malam lucu sekali. Judulnya Lingkaran Asmara. Ceritanya Asmuni punya dua anak lelaki, Tarzan dan adiknya, Bambang Gentholet. Bambang selingkuh denganJujuk, eh ketahuan Tarzan. Bambang dinasehati disuruh pulang pada istrinya, eh sekarang malah Tarzan sendiri kepincut sama Jujuk, selingkuh lagi, eh ketahuan sama Asmuni, dimarahi, disuruh insyaf dan pulang. Begitu Tarzan pulang, Asmuni kesengsem sama Jujuk, selingkuh juga akhirnya. Mbulet berlingkar-lingkar membuat kami, penonton tivi seisi balai desa terpingkal-pingkal, kecuali Kang Darsan.

Padahal, jembatan Kali Comal juga sudah tersambung lagi, truk Sumber Pangan mengangkut beras lagi, ia pun bisa manggul lagi. Harusnya tawanya lebih kencang dari waktu jembatan itu ambruk. Mungkin jarang yang memperhatikan, tapi bapak merasakannya. Bisa jadi karena hubungannya cukup dekat, apalagi bapak pernah diceritakan asal-usul kebiasaan tertawanya itu. Bagiku sendiri, ada terasa yang kurang. Kang Darsan tidak tertawa, itu seperti mendengar musik dangdut Melayu tanpa kendang. Hilang iramanya.

“Sakit gigimu belum sembuh ya, San?” tanya Bapak sambil menutup pintu mushola.

“Sudah. Manjur obatnya. Suwun.” jawab Kang Darsan tanpa tawa khasnya.

“Elho, sudah sembuh malah tidak tertawa. Waktu sakit malah cekikikan. Kok aneh toh?”

Kang Darsan meniup debu-debu di lantai teras mushola. Dikibas-kibasnya sedikit lalu lantai diduduki sambil bersender. Dua kancing baju paking atas dilepas. Bapak tanggap. Posisi duduk seperti itu biasanya ingin bicara dan ingin didengar. Apalagi dilanjut dengan tarikan nafas yang panjang.

“Mas Guru, boleh tanya nggak?”

Bapakku, karena seorang guru, sudah jarang dipanggil dengan nama aslinya. Lebih sering dipanggil Mas Guru oleh mereka yang lebih muda. Atau Gurune, oleh yang sepantaran. Tak jarang cuma Ru saja oleh mereka yang lebih tua.

“Minggu lalu katanya ada rapat pengurus mushola?”

“Iya. Membahas perbaikan mushola.”

“Katanya mau pasang sanyo yah?”

“Itu salah satunya.”

Kang Darsan mendesah, terus memilin-milin ujung sarungnya. Kepalanya menengadah membuat kopyahnya makin membenamkan jidatnya. Bapak sabar menunggu.

“Lah terus tugasku apa? Nyapu-ngepel sudah sama Yu Sri dan Mak Um. Nyuci tikar sudah tugas Kang Wandi. Kalau sumur ini digantikan pompa air listrik, aku kebagian apa?”

Kang Darsan mencopot kopyahnya lalu dipakai kipas-kipas padahal udara tidak sedang panas. Orang gelisah memang tak paham cuaca.

“Orang kayak aku ini nggak punya apa-apa selain tenaga. Makanya aku gunakan semampunya. Aku nggak bisa jadi imam kayak Kang Buchori, nggak bisa urunan kas seperti Mas Guru. Bisaku cuma nimba air, biar kecipratan ganjaran pahala, syukur-syukur bisa dibagi-bagi sama Simbok.”

Bapak tertegun. Belum pernah melihat Kang Darsan semenunduk itu. Bapak ketularan nafasnya jadi terasa berat, ikut duduk senderan di sebelah Kang Darsan. Sedikit-sedikit bapak mulai bisa meraba kemana arah pembicaraan.

“Mas Guru, apa betul, orang yang sudah meninggal masih bisa menerima pahala dari anaknya?”

Bapak mengangguk.

“Betul. Pahala dari anak yang sholeh. Insya Allah simbokmu juga begitu, dapat pahala dari semua kebaikanmu, San.”

Tak disangka mata Kang Darsan berkaca-kaca.

“Lalu nanti simbok dapat dari mana lagi?”

Kini makin teranglah bagi bapak rentetan dari hulu ke hilirnya, urutan sebab musabab Kang Darsan murung. Ada rasa iba, juga kagum diam-diam. Siapa mengira di balik tawanya ada usaha melupakan kesedihannya. Siapa nyana di setiap kerekan timbanya adalah usahanya mengais-ais pahala, yang bila Allah berkenan akan diteruskan untuk simboknya, yang bila Allah berkehendak akan mengampuni dosa simboknya.

Pikiran bapak langsung tertuju pada seonggok kardus besar yang dititipkan di rumah. Masih rapat dililit lakban. Rencananya besok baru akan dibuka sekalian pemasangan. Ada perasaan senang dan haru akhirnya celengan jamaah itu kini ada wujudnya, receh demi sereceh lama-lama jadi pompa air. Tapi mendengar desahan Kang Darsan, bapak jadi mempertanyakan lagi sebenarnya beli sanyo ini untuk apa. Bukankah selama ini kebutuhan air selalu terpenuhi? Mushola tak pernah kekeringan bahkan ketika kemarau sekalipun.

Iya, memang benar ada tujuan supaya tidak lagi membebani Darsan. Kasihan, sepanjang hari tenaganya sudah diperas untuk cari nafkah, masih pula mengisi kolah pagi dan sore. Namun apakah masih bisa dinamakan beban jika itu dilakukan dengan gembira, ikhlas semata-mata untuk mengiba-iba belas kasihan Allah?

Lain daripada itu, di luar soal Kang Darsan, kalau dilihat-lihat hampir semua mushola di desa sudah menggunakan pompa listrik, bahkan mushola Nur Hikmah yang lebih kecil dan lebih sedikit jamaahnya pun sudah. Namun, cukupkah itu sebagai alasan, hanya sekedar tak mau ketinggalan dengan yang lain?

Kenthongan balai desa kedengaran dipukul sembilan kali. Tanpa sadar, kupyah bapak jadi ikutan miring. Agaknya bapak capek bermain bantah-bantahan di alam pikirannya sendiri.

“Yowis, nanti tak bicarakan dengan Kyaine.”

Kang Darsan mengangguk pelan. Dilihatnya bapak berjalan menjauh. Sampai di pertigaan harusnya bapak belok kiri ke rumah, ini ke kanan, kemungkinan besar mampir ke rumah Kyai Buchori. Kang Darsan masuk lagi ke mushola.

***
Pagi harinya Kang Darsan kembali menimba air seperti biasa, namun kali ini dengan perasaan berbeda. Sanyo sudah dibeli dan siang nanti akan dipasang. Artinya kalau semua lancar, inilah pagi terakhir ia harus berpisah dengan sumur, timba, dan bunyi kerekan yang sudah sepuluh tahun lebih menjadi bagian dari dirinya.

Tak disangka, bapak dan Kyai Buchori datang lebih awal. Kang Darsan heran, biasanya menjelang iqomah sesudah qobliyah di rumah masing-masing. Ini, azan saja belum. Rupanya ini hasil semalam, kelanjutan dari belok kanannya bapak ke rumah Kyai Buchori.

“Kamu kalau masih pingin nimba, nggak apa-apa, teruskan. Kamu sambil mendengarkan saja,” kata Kyai Buchori.

Kang Darsan mengangguk. Ia tetap menimba, hanya saja temponya diperlambat, menarik kerekan lebih pelan agak tak berisik.

“Menimba air ini pahalnya besar, karena wudhu merupakan syahnya sholat. Artinya dari setiap pahala orang yang sholat di sini, Insya Allah, mugi Gusti Pangeran kersa, kowe entuk jatah.”

Kerekan berhenti sejenak untuk Kang Darsan mengucapkan Amin pelan sekali.

“Nanti siang sanyone arep dipasang. Tapi kowe ora usah kuatir. Untukmu aku berikan tugas baru. Kebetulan Si Ma’il mau kerja di Jakarta. Kamu gantikan tugas Si Ma’il jadi muazin, subuh, maghrib, isya.”

Seketika kerekan berhenti. Wajah Kang Darsan pucat pasi. Air yang dilimpahkan ke kolah sampai meleset sebagian nyiprat keluar-keluar.

“Muazin juga pahalanya banyak, mengajak sholat, mengajak sedulur-sedulur mencari kemuliaan.”

“Paham, Kyai. Tapi saya nggak bisa. Suara saya mblero.”

“Alah bisa karena biasa. Lama-lama kan bisa. Ini kan karena kamu ngga pernah mencoba.”

Bapak memandang ke dalam mushola, ke arah jam dinding. Bentar lagi masuk azan.

“Ayo siap-siap,” kata Bapak. “Simbokmu sudah nunggu kiriman pahalamu, San.”

Mendengar kata simbok dalam ucapan bapak, Kang Darsan seperti mendapat tenaga baru. Disadarinya, simboknya sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia yang bisa diandalkan untuk mengirim pahala selain dirinya, maka perlahan namun pasti ia singkirkan rasa was-was dalam dirinya. Kalaupun nanti azannya mblero, ia berharap Allah mengampuni dan memberi dispensasi pada dirinya yang sedang belajar, tertatih, terseok, sekedar mencari remah-remah pahala untuk dibagi-bagi dengan simboknya.

Bapak memukul kethongan mushola sebagai penanda masuk waktu subuh. Lalu bergaunglah suara Kang Darsan melantunkan azan pertama kalinya.

“Allahu akbar. Allaaaaaaaaahu akbar.”

Suaranya tak merdu, ada bleronya, belum bisa memperhitungkan kemampuan nafasnya, sehigga di bagian akhir ada yang tidak kebagian nafas. Kata bapak lebih menyerupai jeritan rindu yang tak sampai pada simboknya.

Dan sepertinya Allah berkenan, tak mempersoalkan mblero-nya azan Kang Darsan. Allah memberikan tanda-tanda melalui jamaah yang datang lebih banyak dari biasanya. Mereka yang biasa subuhan di rumah rela melangkahkan kakinya demi mendengar lolongan azan Kang Darsan. Kata bapak, itu adalah azan paling mblero tapi juga paling indah.

***

0
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here