Mengkritisi Trailer Film “The Santri”

0
The Santri

Tadi sore ada sebuah pesan dengan link trailer film masuk ke dalam grup whatsapp. Kebetulan, saya kerja lepas sebagai penulis review film di beberapa tempat, dan di grup itu, setiap ada film yang baru biasanya link trailer kami bagi ke sesama anggota grup.

The Santri. Judul yang menarik mengingat tidak banyak film yang mengangkat dunia santri. Terakhir, saya menonton Negeri 5 Menara yang sangat edukatif dan memiliki nilai-nilai motivasi kehidupan. Lalu setelah sekian lama, akhirnya ada yang dengan berani dan gamblang mengeluarkan judul “The Santri”. Saya pun membuka link dan melihat trailernya.

Sepanjang trailer berjalan, dahi saya berkerut, tidak memahami premis cerita karena kadang narasi dan gambar tidak sesuai. Saya sampai tonton berulang kali. Dahi saya tetap berkerut, bukan, kali ini bukan karena saya tidak memahami premisnya.

Akhirnya saya paham premisnya, berdasarkan trailer The Santri menceritakan sebuah pesantren yang berniat mengirim 6 santri terbaiknya ke Amerika Serikat untuk bekerja disana (entah apa motifnya pemilihan lokasi di Amerika -selain mungkin dari permintaan sutradara agar syuting mudah dilakukan, tapi korelasinya terhadap cerita tidak ada di trailer). Lalu ada sepercik romansa didalamnya, ada persahabatan, dan diperlihatkan sedikit laga. Mungkin akan menjadi drama-action-romance? Ah, benar ternyata, setelah saya selidiki genrenya, disebut film tersebut akan bergenre drama-action.

Baik, kembali ke hal yang membuat dahi saya berkerut. Entah apakah tim produksi film benar-benar mencari refrensi sampai mendalam tentang dunia pesantren, kenapa saya justru merasa ganjil dengan beberapa hal didalam trailer. Kenapa rasanya apa yang ditampilkan jauh dari kesan “anak santri” itu sendiri.

Saya cek bagian produksinya, film ini adalah kerjasama PBNU dengan sutradara yang mengaku menembus Hollywood (yang belakangan ini viral, bisa dicari sendiri beritanya di youtube). Aneh, kalau backingnya PBNU seharusnya tidak banyak hal yang “miss” dari trailer tersebut. Atau PBNU hanya memberikan izin dan tidak mengawasi pembuatan script dan perekaman adegannya?

Baik, langsung saja saya jabarkan apa yang membuat batin saya menolak “keakuratan” dari trailer film tersebut. Pertama, film ini menyoroti tiga tokoh utama, dua perempuan dan satu laki-laki. Saya telisik di internet, konon katanya ketiga teman ini terlibat cinta segitiga. Sesungguhnya, tidak adakah hal yang lebih baik diangkat selain drama percintaan hanya untuk sebatas gimmick memancing penonton?

Tentunya tidak masalah jika cinta yang dihadirkan tidak berlebihan, tetapi di trailer saya justru melihat laki-laki dan perempuan berkhalwat. Dimana sang perempuan naik kuda dan laki-laki berjalan di sampingnya, di tengah hutan. Apakah itu mencontohkan perilaku santri yang baik? Berduaan di tengah hutan?

Selain itu di beberapa adegan juga digamparkan tokoh utama tampak menggunakan make-up yang tebal. Tidak terlihat sekali kalau mereka sedang berada di santri, justru malah terlihat seperti remaja yang hang-out biasa. Entah ini kesalahan tim risetnya atau arahan kepada artist make-upnya.

Kemudian selanjutnya ada adegan yang sepertinya diniatkan untuk menunjukkan nilai pluralisme Islam, tetapi menurut saya adegan tersebut terlalu “jauh”. Masih ada begitu banyak nilai toleransi yang bisa digarap dan dijadikan adegan yang menunjukkan pluralisme Islam. Dikhawatirkan justru adegan itu bisa memicu perdebatan.

Sepanjang durasi trailer, saya justru tidak banyak merasakan nilai Islami selain dari adegan solat berjamaah atau ketika berdoa memohon kepada Allah. Justru nuansa FTVnya yang kental, ketimbang nilai-nilai Islam yang harusnya lebih dintonjolkan dalam trailer.

Apa yang baru saya saksikan hanya cuplikan trailer, saya baca di internet, film ini sudah selesai melakukan syuting di beberapa tempat. Padahal saya masih berharap tim produksi melakukan riset yang lebih dalam. Walau pun naskah dari PBNU, tetap saja tim produksi seharusnya mengoreksi bukan hanya karena pasar, tapi juga keakuratan yang tim produksi riset terhadap kultur pesantren di tanah air. Karena saya melihat trailer ini seperti bahan yang mentah, diolah sesuai ‘arahan’ naskah dari PBNU tanpa riset yang memadai. Sehingga apa yang diminta dalam naskah tampak disampaikan ala kadarnya.

Tetapi kembali lagi, ini hanyalah opini saya yang menilai dari cuplikan -trailer, bukan film utuhnya. Tentu ketika film ini tayang, saya harus menontonnya agar bisa mengoreksi penilaian saya apabila saya keliru.

Pernah ada yang mengatakan, “jangan nilai film dari trailernya”. Bisa jadi, trailer buruk, filmnya bagus. Atau justru trailer memang benar-benar menggambarkan keburukan filmnya. Bijaknya, saya harus menilai sendiri dari versi lengkapnya nanti.

Sekian tulisan dari saya, semoga bisa bermanfaat.

0
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here